Sabtu, 13 Desember 2014

Essay


Ini Bukan Beban, Tapi Ini Tantangan

            Menjadi anak pertama punya tantangan tersendiri. Namun hal ini bukan berarti anak kedua, ketiga, dan seterusnya tidak mempunyai tantangan. Setiap orang pasti mempunyai tantangan dikehidupannya sendiri. Entah itu ia terlahir menjadi anak pertama ataupun keberapa. Semua itu tergantung pribadi masing-masing dalam menanggapi sebuah tantangan tersebut.  
            Anak pertama dianggap ujung tombak memikul masa depan keluarga. Memiliki tanggung jawab yang tidak sama dengan saudara yang lain. Mulai dari track record pergaulannya sehari-hari, pendidikan, pekerjaan, bahkan asmara. Itu semua mempengaruhi pola apa yang akan menurun pada adik-adiknya. Tidak ada anak sulung yang ingin mendengar bahkan bermimpi mendidik adik kesayangannya menjadi gelandangan.
            Ada pepatah mengatakan, “Jika anda ingin anak anda memiliki kehidupan yang damai, biarkan mereka menderita sedikit kelaparan dan kedinginan”. Tidak sedikit orang tua yang mendidik anaknya, terutama si sulung dengan keras. Tujuannya jelaslah baik, kelak si anak mampu berdiri menghadapi persoalan hidupnya.
            Seseorang yang terlahir menjadi anak pertama sangat merasakan apa itu tanggung jawab sesungguhnya. Dari kecil anak pertama selalu diberi nasihat oleh orang tuanya, “Nak, kamu adalah anak tua, kamulah yang nantinya menjadi contoh adik-adikmu. Berilah contoh yang baik dan jadilah kebanggaan orang tua.” Setiap mendengar orang tua berkata seperti itu, rasanya sangat sakit jika harapan yang mereka berikan tidak bisa terpenuhi. Anak pertama harus patuh, mereka harus selalu berusaha menjadi kakak yang baik untuk adik-adiknya, mereka harus pintar, dan dapat bersikap baik, membanggakan, bijaksana, serta pengertian. Meskipun mereka tahu mereka sadar mereka tidak sesempurna itu, tapi mereka harus bertekad untuk tak pernah memperlihatkan sisi rapuhnya kepada adik-adik dan orang tuanya
Bukan hanya itu, anak pertama juga harus bisa menjadi panutan dan contoh bagi adik-adiknya. Inilah yang disebut tanggung jawab, tanggung jawab seorang anak pertama dalam hidupnya. Rasa tanggung jawab harus tertanam didalam diri anak pertama. Mau tidak mau, suka tidak suka, tapi itu adalah kewajiban.
Dalam hal ini terkadang orang tua salah, orang tua terlalu menuntut anaknya. Sehingga dampak yang ditimbulkan bukan dampak positif tapi menjadi dampak negatif didalam diri anak. Anak pertama yang selalu dituntut cenderung memiliki hidup yang sempit. Hidupnya banyak dihabiskan untuk mengejar tuntutan orang tua. Padahal yang diperlukan anak pertama adalah sebuah motivasi yang bisa membangun mereka untuk bisa menjadi panutan yang baik, bukanlah sebuah tuntutan yang cenderung mengekang mereka. Anak pertama harus bisa menjalankan tanggung jawabnya senyaman yang mereka rasakan, agar hal ini tidak menimbulkan tekanan dan beban bagi mereka.
            Sebagai yang tertua, anak pertama cenderung protektif, ingin melindungi adik-adiknya sejauh mungkin dari bahaya dunia luar. Dipikiran anak pertama hanyalah menginginkan adik-adiknya tumbuh dalam masa yang lebih bahagia, kondisi yang berkecukupan lebih dari mereka. Selain orang tua, seseorang yang terlahir sebagai anak pertama memiliki tanggung jawab yang besar terhadap adik-adik dan keluarganya. Memiliki cita-cita yang tinggi dan berpenghasilan yang tinggi inilah adalah salah satu kewajiban anak pertama agar ia bisa memenuhi tanggung jawab itu.
            Namun hal tersebut terkadang membuat anak pertama terjatuh, ketidaksempurnaan yang mereka miliki ini membuat anak pertama merasa jauh untuk menggapai mimpi-mimpi itu, mimpi-mimpi orang tua yang mereka serahkan seutuhnya kepada anak pertama. Sehingga hal ini terkadang menjadi beban tersendiri dihidup anak pertama. Salah sebenarnya, bahkan sangat salah jika mereka menyebut semua ini adalah beban. Justru ini adalah tantangan. Tantangan hidup seorang anak pertama yang harus dan mau tidak mau harus mereka lakukan, mereka hadapi, mereka kerjakan dengan sebaik-sebaiknya. Agar tidak ada tetesan air keringat orang tua terganti oleh tetesan air mata kecewa. Tapi tetesan keringat orang tua haruslah terganti dengan tetesan air mata kebahagiaan, senyuman kebanggan dari bibir mereka. Untuk itu sebagai anak pertama, ia haruslah sukses dan bisa menjadi panutan keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar