Sabtu, 13 Desember 2014
INI SMAN 4 LAHAT
Mutu Bagus Kualitas Terjamin SMAN 4 LAHAT
dalam hal pendidikan, tempat ini mengajarkan saya apa itu pendidikan sebenarnya. sekolah ini mengajarkan saya bahwa persaingan itu, semakin luas kita mengemban pendidikan semakin luas juga tingkatan persaingan yang akan kita alami. awal saya memasuki sekolah ini, saya sempat merasa tidak mampu mengikuti pelajaran yang ada disekolah ini karena banyaknya orang-orang yang menurut saya sangat lebih dibanding saya, bahkan saya sempat merasakan bahwa saya ini jauh dari rata-rata. namun dari 'kemauan' 'niat' dan 'tujuan' saya, membuat saya bertahan disekolah ini dan yakin bahwa sekolah ini adalah tempat yang tepat yang akan mengantarkan saya meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih baik lagi.
dalam hal agama. hmmm dalam hal ini ? saat saya belum menjadi warga ditempat ini, saya akui pengetahuan agama saya masih jauh dibawah rata-rata. namun di tempat inilah saya mendapatkan ajaran-ajaran agama islam yang sesungguhnya, dimulai dari kewajiban memakai jilbab, bagaimana menjadi wanita yang muslimah, dan bahkan bagaimana orang-orang yang dirindukan surga itu sebenarnya. ditempat ini juga mengajarkan saya apa-apa saja larangan dalam islam.
sekolah ini tidak hanya mengajarkan anak didiknya tentang pendidikan, agama saja, namun sekolah ini juga menempa fisik dan mental anak didiknya. disini ada kegiatan yang sering di sebut 'senioritas', naaahhh jangan berfikir negatif dulu dengan kata ini :D di 'senioritas' ini lah kami ditempa menjadi pelajar yang memiliki fisik dan mental yang kuat. dan ini sangat berguna sekali untuk kita dalam menghadapi kehidupan kedepannya. karena sesungguhnya kehidupan kita kedepan nanti pasti akan lebih sulit bahkan akan mempunyai lebih banyak rintangan dari pada yang kita rasakan. untuk itu sekolah ini mengajarkan siswanya untuk terbiasa akan hidup keras yang mungkin saja akan kita rasakan.
Essay
Ini Bukan Beban, Tapi Ini Tantangan
Menjadi
anak pertama punya tantangan tersendiri. Namun hal ini bukan berarti anak
kedua, ketiga, dan seterusnya tidak mempunyai tantangan. Setiap orang pasti
mempunyai tantangan dikehidupannya sendiri. Entah itu ia terlahir menjadi anak
pertama ataupun keberapa. Semua itu tergantung pribadi masing-masing dalam
menanggapi sebuah tantangan tersebut.
Anak
pertama dianggap ujung tombak memikul masa depan keluarga. Memiliki tanggung
jawab yang tidak sama dengan saudara yang lain. Mulai dari track record
pergaulannya sehari-hari, pendidikan, pekerjaan, bahkan asmara. Itu semua
mempengaruhi pola apa yang akan menurun pada adik-adiknya. Tidak ada anak
sulung yang ingin mendengar bahkan bermimpi mendidik adik kesayangannya menjadi
gelandangan.
Ada
pepatah mengatakan, “Jika anda ingin anak anda memiliki kehidupan yang damai,
biarkan mereka menderita sedikit kelaparan dan kedinginan”. Tidak sedikit orang
tua yang mendidik anaknya, terutama si sulung dengan keras. Tujuannya jelaslah
baik, kelak si anak mampu berdiri menghadapi persoalan hidupnya.
Seseorang
yang terlahir menjadi anak pertama sangat merasakan apa itu tanggung jawab
sesungguhnya. Dari kecil anak pertama selalu diberi nasihat oleh orang tuanya,
“Nak, kamu adalah anak tua, kamulah yang nantinya menjadi contoh adik-adikmu.
Berilah contoh yang baik dan jadilah kebanggaan orang tua.” Setiap mendengar
orang tua berkata seperti itu, rasanya sangat sakit jika harapan yang mereka
berikan tidak bisa terpenuhi. Anak pertama harus patuh, mereka harus selalu
berusaha menjadi kakak yang baik untuk adik-adiknya, mereka harus pintar, dan
dapat bersikap baik, membanggakan, bijaksana, serta pengertian. Meskipun mereka
tahu mereka sadar mereka tidak sesempurna itu, tapi mereka harus bertekad untuk
tak pernah memperlihatkan sisi rapuhnya kepada adik-adik dan orang tuanya
Bukan hanya itu, anak
pertama juga harus bisa menjadi panutan dan contoh bagi adik-adiknya. Inilah
yang disebut tanggung jawab, tanggung jawab seorang anak pertama dalam
hidupnya. Rasa tanggung jawab harus tertanam didalam diri anak pertama. Mau
tidak mau, suka tidak suka, tapi itu adalah kewajiban.
Dalam hal ini terkadang
orang tua salah, orang tua terlalu menuntut anaknya. Sehingga dampak yang
ditimbulkan bukan dampak positif tapi menjadi dampak negatif didalam diri anak.
Anak pertama yang selalu dituntut cenderung memiliki hidup yang sempit.
Hidupnya banyak dihabiskan untuk mengejar tuntutan orang tua. Padahal yang
diperlukan anak pertama adalah sebuah motivasi yang bisa membangun mereka untuk
bisa menjadi panutan yang baik, bukanlah sebuah tuntutan yang cenderung
mengekang mereka. Anak pertama harus bisa menjalankan tanggung jawabnya
senyaman yang mereka rasakan, agar hal ini tidak menimbulkan tekanan dan beban bagi
mereka.
Sebagai
yang tertua, anak pertama cenderung protektif, ingin melindungi adik-adiknya
sejauh mungkin dari bahaya dunia luar. Dipikiran anak pertama hanyalah
menginginkan adik-adiknya tumbuh dalam masa yang lebih bahagia, kondisi yang
berkecukupan lebih dari mereka. Selain orang tua, seseorang yang terlahir
sebagai anak pertama memiliki tanggung jawab yang besar terhadap adik-adik dan
keluarganya. Memiliki cita-cita yang tinggi dan berpenghasilan yang tinggi
inilah adalah salah satu kewajiban anak pertama agar ia bisa memenuhi tanggung
jawab itu.
Namun
hal tersebut terkadang membuat anak pertama terjatuh, ketidaksempurnaan yang
mereka miliki ini membuat anak pertama merasa jauh untuk menggapai mimpi-mimpi
itu, mimpi-mimpi orang tua yang mereka serahkan seutuhnya kepada anak pertama.
Sehingga hal ini terkadang menjadi beban tersendiri dihidup anak pertama. Salah
sebenarnya, bahkan sangat salah jika mereka menyebut semua ini adalah beban.
Justru ini adalah tantangan. Tantangan hidup seorang anak pertama yang harus
dan mau tidak mau harus mereka lakukan, mereka hadapi, mereka kerjakan dengan
sebaik-sebaiknya. Agar tidak ada tetesan air keringat orang tua terganti oleh
tetesan air mata kecewa. Tapi tetesan keringat orang tua haruslah terganti
dengan tetesan air mata kebahagiaan, senyuman kebanggan dari bibir mereka. Untuk
itu sebagai anak pertama, ia haruslah sukses dan bisa menjadi panutan keluarga.
Langganan:
Komentar (Atom)




.jpg)
.jpg)
